Medan, 1 Mei 2025 — Setiap 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), sebuah momen bersejarah yang tidak hanya mengingatkan kita pada jasa para pahlawan pendidikan, tetapi juga menjadi ajakan untuk terus merefleksikan perjalanan panjang dunia pendidikan bangsa ini.
Awal Mula Hari Pendidikan Nasional
Penetapan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional didasarkan pada Keputusan Presiden RI Nomor 316 Tahun 1959, mengambil hari lahir Ki Hadjar Dewantara sebagai simbol perjuangan pendidikan nasional. Sosok yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ini mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922, institusi pendidikan pertama yang memberikan kesempatan belajar bagi rakyat jelata di tengah tekanan penjajahan Belanda.
Ki Hadjar Dewantara memperkenalkan prinsip “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani,” yang hingga kini menjadi filosofi dalam dunia pendidikan Indonesia. Nilai-nilai itu mengajarkan bahwa seorang pendidik harus mampu menjadi teladan, membangun semangat, dan memberikan dorongan dari belakang.

Pergerakan Pendidikan di Indonesia: Dari Masa Penjajahan hingga Reformasi
Sejak era kolonial, pendidikan di Indonesia digunakan sebagai alat perjuangan untuk meningkatkan kesadaran nasionalisme. Perguruan-perguruan seperti Taman Siswa, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama memelopori pendidikan berbasis nilai kebangsaan dan keagamaan.
Pasca-kemerdekaan, pembangunan sektor pendidikan menjadi salah satu prioritas nasional. Program wajib belajar 6 tahun pada 1984 yang kemudian diperluas menjadi 9 tahun pada 1994, memperlihatkan komitmen negara untuk memperluas akses pendidikan.
Memasuki era reformasi, berbagai upaya perbaikan terus dilakukan. Otonomi daerah membawa perubahan dalam tata kelola pendidikan, sedangkan kurikulum-kurikulum baru, seperti Kurikulum 2013 dan Merdeka Belajar, mencoba menjawab tantangan globalisasi dan revolusi industri 4.0.
Permasalahan yang Terus Membayang
Namun, di balik berbagai kemajuan, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Kesenjangan akses pendidikan antara daerah maju dan daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) masih menjadi masalah besar.
Di sisi lain, kualitas pendidikan nasional seringkali belum merata, tercermin dari hasil asesmen nasional maupun skor PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia yang masih rendah dibandingkan negara lain.
Isu kesejahteraan guru, kekurangan sarana dan prasarana, serta rendahnya literasi digital di sejumlah daerah juga menjadi sorotan dalam upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas untuk semua.
Keberhasilan yang Membanggakan
Meski demikian, bukan berarti tidak ada capaian yang patut dibanggakan.
Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk pendidikan dasar dan menengah terus mengalami peningkatan. Indonesia juga mencatat prestasi membanggakan dalam berbagai ajang internasional, seperti Olimpiade Sains Internasional dan kompetisi inovasi teknologi.
Program Merdeka Belajar yang diusung sejak 2020 mendorong lahirnya ekosistem belajar yang lebih fleksibel, mengutamakan kreativitas, kolaborasi, dan kemandirian peserta didik.
Tak hanya itu, banyak inovasi lokal bermunculan, seperti sekolah berbasis komunitas, rumah belajar daring, hingga kampus-kampus yang aktif membangun pusat inovasi dan inkubator startup untuk mahasiswa.
Fenomena Pendidikan Masa Kini
Tahun 2025 menunjukkan wajah baru dunia pendidikan Indonesia. Teknologi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar-mengajar.
Platform pembelajaran daring, artificial intelligence dalam asesmen, hingga penggunaan big data dalam pengembangan kurikulum menjadi fenomena yang mewarnai pendidikan saat ini.
Namun, di sisi lain, fenomena learning gap antara siswa yang memiliki akses teknologi dengan yang tidak tetap menjadi masalah nyata.
Budaya belajar cepat (fast learning) juga membawa tantangan baru: kemampuan berpikir kritis dan ketahanan mental siswa menjadi isu yang harus diperhatikan.
Pemerintah terus berupaya menjawab tantangan ini melalui kebijakan pemerataan digitalisasi sekolah, pelatihan guru berbasis teknologi, dan memperkuat literasi karakter sebagai pondasi pendidikan bangsa.
Menatap Masa Depan: Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar
Dengan tema “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar”, Hardiknas 2025 mengajak seluruh komponen bangsa untuk tidak hanya membangun pendidikan yang adaptif terhadap zaman, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai luhur bangsa.
Pendidikan bukan hanya tentang mencetak lulusan, tetapi tentang membentuk karakter, menumbuhkan rasa cinta tanah air, dan membangun masa depan Indonesia yang lebih adil, makmur, dan beradab.
Hari ini, saat kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, mari kita warisi semangat Ki Hadjar Dewantara: menjadikan pendidikan sebagai obor peradaban bangsa, dan meneruskannya dengan penuh dedikasi dan harapan.
